di sebidang dada, di sehampar padang yang dikepung penjuru dan segala ufuk,
sungai-sungai berdetak, tak berhenti mengalirkan doa yang tak pernah cukup
tak lelah memanggil purnama agar jalan lengang segera terang,
menuju sebuah peluk.
malam-malam yang penuh kembang api, bunyi mercon yang mengilukan
pinggang kananku, dan degub beduk lebaran yang terus aku peram
di dada kiriku akan aku buka untukmu, bila kelak tiba di depanmu.
tapi engkau terus melangkah pergi ke arah ufuk,
menjauh dari doa-doaku.
[12.2007]
Jimpe, syair puisi yang indah dan menggetarkan. Thanks sudah membuat saya tersentuh pagi ini.
wassalam,
daengbattala
hmm, saya kayak tertidur di belai kata-kata mu Puang Jimpe!
mohon petunjuk.
sebenarnya aku tak terlalu ngerti sajak…..
Tapi terus terang sajak ini terdengar indah…
Aih, berkeping…..(maaf……saya terlambat menyambangi ruangan ini)….