Jagat Karikatural I La Galigo Firman Djamil

Posted: December 19, 2007 in kurasi

EPOS sebuah masyarakat adalah cerminan keadaan di masa tertentu, sekaligus nujuman tentang kondisi yang sudah jelang dan segera datang. Sejarah, tak ubahnya model pakaian, sebuah perihal yang berulang-ulang. Alur besarnya sama. Pernik dan hiasan saja yang berbeda, tergantung benda budaya apa yang diproduksi di masing-masing zaman. Begitulah kiranya Firman Djamil memperlakukan I Lagaligo sebagai sumber insiprasi karyanya.
Dunia dalam drawing Firman Djamil adalah jagat yang berlapis tiga: dunia atas, dunia tengah (Ale Lino), dan dunia bawah (Peretiwi). Tiga semesta itu diberi tempat yang sama. Tiga lapis saling terkait, bertaut satu dengan yang lain dalam sebuah peristiwa dan konteks.

I LA GALIGO merupakan wiracarita penciptaan dunia oleh Patotoqe, Sang Penentu Nasib, yang memutuskan mengirim Batara Guru untuk mengisi Ale’ Lino. Batara Guru lalu dipertemukan dengan We Nyiliq Timoq, putri Raja dan Ratu Dunia Bawah. Keturunannya pun beranakpinak di Dunia Tengah. Tapi mereka hanya membuat kekacauan di muka bumi. Mereka menjadi penguasa yang semena-mena. Maka tumbanglah pohon raksasa I La Walenreng. Pokok pohon di muara Mangkuttu itu rebah lantaran dijelma menjadi perahu tumpangan Sawerigading. Padahal di sebatang pohon kolosal tersebut berdiam ribuan jenis burung.
Sang Buaja Tasi’e (buaya muara) dan Si Ula Balu (ular pithon) marah besar karena perusakan yang dilakukan Sawerigading itu. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kukibaskan ekorku, kamu akan tenggelam di dasar laut,” cetus Buaja Tasie. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kutelan, kamu akan binasa di dalam perutku,” tambah Ula Baloe, tak kalah sengit.
Cinta terlarang yang penuh di dada Sawerigading ditolak saudara serahimnya, We Tenriabeng. ”Di Negeri Cina, ada putri yang berparas serupa denganku. Berangkatlah menjemputnya,” kata We Tenriabeng. Lalu Sawerigading pun bentangkan layar perahu I La Walenreng; berangkat ke ufuk utara Luwu bernama Negeri Cina, mencari putri yang bernama I We Cudai.

PENGGALAN epik tersebut merupakan salah satu peristiwa besar dalam I La Galigo, yang dijadikan titik berangkat Firman dalam mengamati lingkungan sekitarnya. Betapa keserakahan dan kepentingan pribadi penguasa justru mengakibatkan sulitnya masyarakat mengembangkan kehidupan yang lebih baik, seperti hajat Sawerigading terhadap saudaranya yang kemudian mengorbankan pohon raksasa I La Walenreng. Wajarlah bila Firman menjadi salah seorang dari barisan yang menganjurkan penguasa dan masyarakatnya segera kembali ke ruang kesadaran yang telah tersusun baik sejak lampau, semisal, salah satunya, I La Galigo. Ia menyapa dan mengingatkan kita lewat gambar, bahwa masih ada harapan, dan segeralah bercermin pada peringatan yang datang dari masa silam yang berbentuk epos itu.
Bila I La Galigo adalah huruf yang direntang menjadi epik terpanjang dunia, maka Firman menggambarnya, dengan kebanyakan menggunakan ballpoin. Memilih jalan drawing tentu memiliki konsekuensi, seperti warna hitam putih yang memenuhi matra. Namun hitam putih itu menjadikannya lebih karikatural. Sejauh ini, sungguh jalan sunyi Firman ini menjadi sebuah kemungkinan baru dalam ranah seni rupa Sulawesi Selatan.
Cara ini lalu menjadi jalan alternatif yang bernas. Betapa kekuasaan di semenanjung pulau Sulawesi ini terasa menjadi praktik yang penuh ’wibawa’. Raja atau para penguasanya tidak memiliki selera humor, tanpa pernah terganggu interupsi, olok-olok, dan plesetan. Kaum yang tidak doyan mencari keburukan diri.
Lain hal yang tumbuh dalam kesadaran masyarakat Jawa, komunitas yang memberi ruang besar bagi Semar—berikut anak-anaknya yang punakawan—untuk menjangkau kalangan istana (penguasa) dengan leluasa dengan segala kelakar mereka. King Lear pun punya pendamping bernama The Fool atau Si Bodor. Mereka mengkritik dan mengirim peringatan atas segala tindakan penguasa yang dianggap zalim.
Dalam drawing Firman yang dijuduli Konspirasi I Lawalenreng yang bertitimangsa 2001—untuk menyebut satu contoh, Sawerigading diwujudkan sebagai buaya dengan kelamin tegang, menendang batang I La Walenreng. Mulutnya menganga lebar seperti menjejalkan gambar hati (tanda cinta) ke mulut seekor ular betina, dengan hiasan di kepalanya. Sementara di bawah kaki si buaya, sebuah perahu bergerak menuju si betina.
Gambar itu hanya sekadar contoh dari beberapa gambar yang memiliki kesamaan siasat ketika Firman menarik garis dengan pulpen atau menyapu dengan kuasnya. Dalam drawingnya yang dipamerkan ini, seperti Key Hole, One and Seven, atau Liver Oscollation, akan kita temui gambar yang memiliki niat yang sama. Kalangan penentu kebijakan dan pemodal menjadi mahluk penganggu: tikus yang mengerat, anjing yang mengendus dan menjilat, nyamuk penghisap darah, atau kucing yang licik. Pola ini awam dipakai karikaturis di terbitan harian, mingguan, atau berkala. Sementara orang-orang yang berada di dunia bawah seperti dalam Noh atau Bottle Conference diserupakan dengan binatang laut semisal ubur-ubur, kuda laut, penyu atau kura-kura, atau ulat; mahluk tak memiliki daya, remeh, lambat, lembek, terlindas, dan sering tak terlihat.

MENAFSIR Firman, tentu saja, di antara kita bisa tak sama. Namun, bagi saya, Firman mengajak kita menggalakkan guyonan, mengembangkan olok-olok dan plesetan, hidupkan ledekan, sekali interupsi bila mungkin dan perlu. Tapi yang terpenting dan paling genting: turutlah dalam barisan yang menertawai diri sendiri.[]

catatan: tulisan ini dari katalog True Color, pameran lukisan kain perca dan drawing Siswa SMPN 24 Makassar dan Firman Djamil, ruang pameran Komunitas Ininnawa, 27 November-1 Desember 2007.

Comments
  1. Francois davin says:

    Hello Firman,
    Saya di Makassar di perahu layar saya.
    Do you remember me from Korea and japan???
    Indonesia Telpon nomor saya;
    081338752948

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s