come fiume
sebatang sungai rasa; membawa segala ke muaraArchive for sajak-sajak dari lagu radiohead
pintu-pintu
(interpretasi dari pulk/revolving door-radiohead [amnesiac])
pintu-pintu gudang itu
adalah pintu-pintu berputar
pintu di ruang-ruang kemudi
kapal-kapal pesar
dan pintu-pintu terus berputar
adalah pintu yang membuka
dirinya sendiri
pintu-pintu geser
dan pintu-pintu rahasia
adalah pintu yang terkunci
pintu-pintu larangan
ada pula pintu yang membawamu masuk dan keluar
tapi tak akan pernah terbuka
dan ada pintu-pintu jebakan
yang membuatmu tak bisa pulang
[12.2007]
sajak ujung palung
(interpretasi atas pyramid song-radiohead [amnesiac])
di sungai ini aku tenggelam
dan tahukah engkau apa yang kusaksikan?
malaikat bermata malam menemaniku berenang
serongsok bulan penuh bintang,
juga gugusan kereta
seluruh sosok yang pernah aku sapa
ditemani kekasih-kekasih
abad-abad silam juga masa nanti
lalu kami berangkat ke surga di balik awan
terengah-engah mendayung sampan
tak ada yang perlu ditakutkan dan diragukan
ya, tak perlu kecut dan takut.
[12.2007]
pada sebuah perekam
(interpretasi atas videotape-radiohead [in rainbows])
setiba di pintu-pintu berkemilau mutiara ini
akan aku dekam ke dalam perekam, ke segala perekam
karena elmaut di belakang sana menguntit
menjulurkan tangan, ingin mencekik
maka datanglah hari yang penuh puisi
yang membungkusku di sini
menjadi merah, biru, hijau
memerah, membiru, menghijau
engkaulah pusat dari segala pengisaranku
di luar dari yang engkau lihat di perekam
dari segala yang berdiam
yang aku peram
dalam perekam
tapi beginilah akhirnya aku harus melambai
karena tak akan mampu aku memandang wajahmu
dan aku bicara padamu sebelum malabala itu tiba
lewat perekam ini
bila pun ada yang terjadi hari ini, tak usah takut
hari ini, aku rasa, hari paling hijau yang pernah tiba di mataku.
[12.2007]
hujan mengepung malam
(interpretasi lagu and it rained all night-Thom Yorke [the eraser])
lalu hujan membasuh segala malam
dan hanyutlah segala kelam
turun ke udara kota yang redam
gemeretak rel baja, melintas lokomotif hitam
sejuta mesin menderu memuat hampa
bom waktu yang bertiktok sedih
di beton bawah tanah lima puluh kaki
seperti tetes-tetes yang membentuk danau
bisikkanlah ke telingaku segala sengau
kusulap menjadi lagu
kratakkratakkrutuk
aku bosan menyahut
pendulum di jam pak tua terus berayun
masih aku pandangi kau dari jauh
tak pernah mampu menyentuhmu
hujan mengepung malam
dan hari-hari pun murung
tetesnya memenuhi wajah dan tangan
kunang-kunang keluar sarang
bertanya ada apa gerangan
kita masih menarik kereta tenggelam
keluar dari sungai yang membentang
tidaklah menyedihkan
gaib namun karib
tak kenal lelah
tak terdedah-bantah
dan tak bisa kau sangkal
lalu kenapa ia terlihat indah?
bagaimana bisa bulan tanggal dari langit?
aku mampu menatapmu
tapi aku tak akan pernah bisa menyentuhmu
ya, aku hanya mampu menatapmu
[11.2007]