INILAH lipatan-lipatan sajak Aslan Abidin yang pertama. Sekumpul sajak yang oleh beberapa di antara sidang pembaca, mungkin, amat ’genit’. Pembedaharaan kata rasa genit bisa dinikmati di setumpuk sajak yang ditulisnya mulai 1993 dalam buku ini. Tapi benarkah Aslan genit?
Sepintas rasanya memang demikian. Tapi bagi Penerbit, sajak Aslan Abidin adalah benda penting dalam kehidupan kebudayaan Sulawesi Selatan. Pilihan Aslan untuk memasukkan seperangkat instrumen tubuh ke dalam larik sajaknya adalah pilihan yang tepat—setidaknya untuk kondisi Sulawesi Selatan.
Aslan sendiri dalam beberapa kesempatan mengatakan, perangkat tubuh yang dimasukkannya itu berdasarkan kebiasaan nelayan Pattorani atau pencari telur ikan terbang. Bila sedang di tengah laut, mereka melantunkan syair-syair cabul, sebagai penawar bagi awak Pattorani biar tak dimabukkan ombak laut yang keras; juga pelipur bagi mereka yang dilanda rindu rumah karena berlayar lama.
Tak kalah penting pula bagi kami adalah bila masyarakat laut seperti komunitas Pattorani menggunakan perangkat bahasa itu sebagai syair yang menenangkan, lain pula dengan masyarakat daratan Sulawesi Selatan. Kelamin, tentu dengan bahasa setempat, dipakai dalam kebutuhan memaki, seperti [maaf!] tailaso-mu (laso [Bugis/Makassar] = penis). Penggunaan kata ‘kotor’ itu berbeda dengan masyarakat, semisal Jawa, yang memakai kata, kalimat, dan sumpah-serapah dengan mendayagunakan nama anggota tubuh lain, semisal batok-mu, atau mata-mu.
Perilaku berbahasa masyarakat tempatnya tumbuh itu pun bisa menjadi referensi terkait laku Aslan dalam bersajak, yang memaksimalkan glosari kelamin dan alat genital lainnya menjadi perangkat bahasanya. Maka jangan heran dan tidak kebetulan bila Aslan mengolah dan menyandingkannya dengan kosa kata dan narasi tentang kekuasaan di dalam sajaknya seperti yang terpapar jelas dalam Rajah di Antara Kedua Buah Dada, Homme Statue, Phallusentris, atau Puncak Agustus 2002. Di tempatnya tumbuh, Sulawesi Selatan, Aslan bertindak sebagai warga yang merekam kedongkolannya terhadap praktik-praktik pengaturan yang dilakukan seperangkat aparatus negara yang abai terhadap kritik dan masukan.

KUMPULAN sajak ini awalnya dijuduli Buah Dada Aslan. Judul ini tidak bertahan lama. Aslan menyodorkan titel yang lebih ’menantang’, yakni Kelamin dari Timur. Tajuk ini merupakan pengeliruan Ayam Jantan dari Timur, gelar pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. Sayangnya, meski mendapat sambutan hangat, judul itu kami ubah lagi, lantaran beberapa masukan dari teman dekat.
Alasan yang terkuat adalah judul itu dianggap makin menegaskan sastra Indonesia masih memiliki kutub. Kami tidak menganut paham itu. Kami hanya melihat sastra harusnya hadir dan hidup untuk perbaikan-perbaikan kehidupan, setidaknya bagi masyarakat sekitarnya.
Selain itu, kecenderungan para petinggi yang berkiprah di tingkat nasional kerap membawa sematan Dari Timur bila masuk ke kancah yang lebih luas, termasuk Sultan Hasanuddin tadi, sebagai sebuah fenomena lucu bagi kami. Seakan-akan mereka berkiprah karena dorongan semangat dari pendukungnya yang murni hanya dari tempat mereka dibesarkan. Sekali lagi, kami bukan salah satu pengikut paham itu.

KAMI hadirkan sajak-sajak Aslan Abidin dalam buku ini, semoga, menjadi bagian dari laku kritik-diri, kritik terhadap apa yang tengah berlangsung di tengah kami. Harapannya, sifat masyarakat Sulsel yang pojialé (megalomania) tidak sampai menjangkit dalam generasi kami.
Lantaran pula sebab buku ini hadir untuk memberi semarak dunia sastra Indonesia, kami hantar sidang pembaca yang budiman dengan esai tak berjudul dari Ian Campbell, seorang peneliti keindonesiaan berkebangsaan Australia. Tulisan Campbell memang berbahasa Indonesia ’tertatih’. Namun kami membiarkannya demikian agar keaslian buah pikiran Beliau dalam logika bahasa Indonesia tak tergerus penyuntingan.
Dengan ini pula, kami hadirkan Aslan layaknya sebagai Pattorani di lautan luas sastra Indonesia: pelantun syair peredam gelombang hidup yang cepat-deras-keras.[]

[tulisan pendek ini adalah pengantar penerbitan kumpulan sajak Aslan Abidin “Bahaya Laten Malam Pengantin” (Ininnawa, 2008 )

Advertisements

– mengingat hasan aspahani

hari ini, aku mendapat paket. isinya weker.

pak pos bilang, hati-hati. sejak dalam perjalanan,
ia sangka dadanya yang berdegup kencang.
padahal ia tak sarapan sepekat pun kopi.
semalaman juga hanya menikmati sunyi.

“ambil cepat. aku mau pergi.
masih banyak surat yang mesti mengetuk.
silakan meledak sendiri.
buka paketnya di kamarmu saja.”

hanya ancang-ancangnya yang tertinggal.
sisa derunya menempel di kelok terakhir
kompleks ini. tak sempat lagi pintu girang aku tutup,
empat pria berbaju serba hitam sudah mengepungku
di seluruh penjuru.

“angkat tangan! kami dari perusahaan pembuat kalender.
serahkan paketnya atau umurmu kami tebak!”

pintu girang segera kututup.
aku gagal meledak hari ini.

[2007-2008]

wasiat

Posted: January 24, 2008 in matahari

lantaran wanti-wanti wasiat, ibu kami makamkan
di pekarangan belakang.

bukan karena tidak ada ruang. yang pasti tanah itu sangat lapang.
pun dia ingin kami, anak-anaknya, rajin datang mengulur tangan
membersihkan makam.

di hadapanku, piring bergambar bunga yang biasa dipakainya
di setiap perjamuan keluarga atau menerima tamu, penuh nasi,
ikan, dan sayur.

ibu mewariskan kesukaan sayur gambas ke kami.
untuknya, kami menanamnya di kebun belakang,
sekitar makamnya.

kini tangan-tangan gambas yang terus menjalar itu menggapai jendela
ruang makan. Dan setiap angin bertiup sedikit, tangan-tangan hijau surga
itu seperti melambai ke kami, mengucapkan selamat makan.

waktu

Posted: January 6, 2008 in matahari

seperti kunang-kunang
di tangan kenangan
bagai terpegang
terbang pelan
menghilang
ke dalam
sebuah rimbun di halaman

[01.2008]

pintu-pintu

Posted: December 27, 2007 in sajak-sajak dari lagu radiohead

(interpretasi dari pulk/revolving door-radiohead [amnesiac])

pintu-pintu gudang itu
adalah pintu-pintu berputar
pintu di ruang-ruang kemudi
kapal-kapal pesar
dan pintu-pintu terus berputar
adalah pintu yang membuka
dirinya sendiri

pintu-pintu geser
dan pintu-pintu rahasia
adalah pintu yang terkunci
pintu-pintu larangan
ada pula pintu yang membawamu masuk dan keluar
tapi tak akan pernah terbuka
dan ada pintu-pintu jebakan
yang membuatmu tak bisa pulang

[12.2007]

segala gelap

Posted: December 21, 2007 in matahari

segala gelap
pekat yang lengkap
telah ditangkup ke dalam sajak

hanya pagi yang mekar
awannya merah, seperti gincu gadis
menuju pasar

[12.2007]

EPOS sebuah masyarakat adalah cerminan keadaan di masa tertentu, sekaligus nujuman tentang kondisi yang sudah jelang dan segera datang. Sejarah, tak ubahnya model pakaian, sebuah perihal yang berulang-ulang. Alur besarnya sama. Pernik dan hiasan saja yang berbeda, tergantung benda budaya apa yang diproduksi di masing-masing zaman. Begitulah kiranya Firman Djamil memperlakukan I Lagaligo sebagai sumber insiprasi karyanya.
Dunia dalam drawing Firman Djamil adalah jagat yang berlapis tiga: dunia atas, dunia tengah (Ale Lino), dan dunia bawah (Peretiwi). Tiga semesta itu diberi tempat yang sama. Tiga lapis saling terkait, bertaut satu dengan yang lain dalam sebuah peristiwa dan konteks.

I LA GALIGO merupakan wiracarita penciptaan dunia oleh Patotoqe, Sang Penentu Nasib, yang memutuskan mengirim Batara Guru untuk mengisi Ale’ Lino. Batara Guru lalu dipertemukan dengan We Nyiliq Timoq, putri Raja dan Ratu Dunia Bawah. Keturunannya pun beranakpinak di Dunia Tengah. Tapi mereka hanya membuat kekacauan di muka bumi. Mereka menjadi penguasa yang semena-mena. Maka tumbanglah pohon raksasa I La Walenreng. Pokok pohon di muara Mangkuttu itu rebah lantaran dijelma menjadi perahu tumpangan Sawerigading. Padahal di sebatang pohon kolosal tersebut berdiam ribuan jenis burung.
Sang Buaja Tasi’e (buaya muara) dan Si Ula Balu (ular pithon) marah besar karena perusakan yang dilakukan Sawerigading itu. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kukibaskan ekorku, kamu akan tenggelam di dasar laut,” cetus Buaja Tasie. ”Seandainya kau bukan anak dewa, sekali saja kutelan, kamu akan binasa di dalam perutku,” tambah Ula Baloe, tak kalah sengit.
Cinta terlarang yang penuh di dada Sawerigading ditolak saudara serahimnya, We Tenriabeng. ”Di Negeri Cina, ada putri yang berparas serupa denganku. Berangkatlah menjemputnya,” kata We Tenriabeng. Lalu Sawerigading pun bentangkan layar perahu I La Walenreng; berangkat ke ufuk utara Luwu bernama Negeri Cina, mencari putri yang bernama I We Cudai.

PENGGALAN epik tersebut merupakan salah satu peristiwa besar dalam I La Galigo, yang dijadikan titik berangkat Firman dalam mengamati lingkungan sekitarnya. Betapa keserakahan dan kepentingan pribadi penguasa justru mengakibatkan sulitnya masyarakat mengembangkan kehidupan yang lebih baik, seperti hajat Sawerigading terhadap saudaranya yang kemudian mengorbankan pohon raksasa I La Walenreng. Wajarlah bila Firman menjadi salah seorang dari barisan yang menganjurkan penguasa dan masyarakatnya segera kembali ke ruang kesadaran yang telah tersusun baik sejak lampau, semisal, salah satunya, I La Galigo. Ia menyapa dan mengingatkan kita lewat gambar, bahwa masih ada harapan, dan segeralah bercermin pada peringatan yang datang dari masa silam yang berbentuk epos itu.
Bila I La Galigo adalah huruf yang direntang menjadi epik terpanjang dunia, maka Firman menggambarnya, dengan kebanyakan menggunakan ballpoin. Memilih jalan drawing tentu memiliki konsekuensi, seperti warna hitam putih yang memenuhi matra. Namun hitam putih itu menjadikannya lebih karikatural. Sejauh ini, sungguh jalan sunyi Firman ini menjadi sebuah kemungkinan baru dalam ranah seni rupa Sulawesi Selatan.
Cara ini lalu menjadi jalan alternatif yang bernas. Betapa kekuasaan di semenanjung pulau Sulawesi ini terasa menjadi praktik yang penuh ’wibawa’. Raja atau para penguasanya tidak memiliki selera humor, tanpa pernah terganggu interupsi, olok-olok, dan plesetan. Kaum yang tidak doyan mencari keburukan diri.
Lain hal yang tumbuh dalam kesadaran masyarakat Jawa, komunitas yang memberi ruang besar bagi Semar—berikut anak-anaknya yang punakawan—untuk menjangkau kalangan istana (penguasa) dengan leluasa dengan segala kelakar mereka. King Lear pun punya pendamping bernama The Fool atau Si Bodor. Mereka mengkritik dan mengirim peringatan atas segala tindakan penguasa yang dianggap zalim.
Dalam drawing Firman yang dijuduli Konspirasi I Lawalenreng yang bertitimangsa 2001—untuk menyebut satu contoh, Sawerigading diwujudkan sebagai buaya dengan kelamin tegang, menendang batang I La Walenreng. Mulutnya menganga lebar seperti menjejalkan gambar hati (tanda cinta) ke mulut seekor ular betina, dengan hiasan di kepalanya. Sementara di bawah kaki si buaya, sebuah perahu bergerak menuju si betina.
Gambar itu hanya sekadar contoh dari beberapa gambar yang memiliki kesamaan siasat ketika Firman menarik garis dengan pulpen atau menyapu dengan kuasnya. Dalam drawingnya yang dipamerkan ini, seperti Key Hole, One and Seven, atau Liver Oscollation, akan kita temui gambar yang memiliki niat yang sama. Kalangan penentu kebijakan dan pemodal menjadi mahluk penganggu: tikus yang mengerat, anjing yang mengendus dan menjilat, nyamuk penghisap darah, atau kucing yang licik. Pola ini awam dipakai karikaturis di terbitan harian, mingguan, atau berkala. Sementara orang-orang yang berada di dunia bawah seperti dalam Noh atau Bottle Conference diserupakan dengan binatang laut semisal ubur-ubur, kuda laut, penyu atau kura-kura, atau ulat; mahluk tak memiliki daya, remeh, lambat, lembek, terlindas, dan sering tak terlihat.

MENAFSIR Firman, tentu saja, di antara kita bisa tak sama. Namun, bagi saya, Firman mengajak kita menggalakkan guyonan, mengembangkan olok-olok dan plesetan, hidupkan ledekan, sekali interupsi bila mungkin dan perlu. Tapi yang terpenting dan paling genting: turutlah dalam barisan yang menertawai diri sendiri.[]

catatan: tulisan ini dari katalog True Color, pameran lukisan kain perca dan drawing Siswa SMPN 24 Makassar dan Firman Djamil, ruang pameran Komunitas Ininnawa, 27 November-1 Desember 2007.